Suara Ketua Umum

Membangun bangsa Indonesia yang demikian luas dengan berbagai keanekaragamannya tidak hanya dapat dilakukan melalui perekonomian atau modal sendiri. Membangun bangsa juga dapat dilakukan melalui usaha dan modal bersama, yakni melalui koperasi yang mana asas perekonomian koperasi selalu berlandaskan kekeluargaan.

Perlu disadari bahwa hingga saat ini, perekonomian Indonesia umumnya dan NTT khususnya masih dikuasai oleh para pemilik modal. Para pemilik modal digolongkan sebagai kelas ekonomi atas. Padahal fakta menunjukkan, jumlah pemilik modal tidak sebanyak dengan jumlah masyarakat yang secara nyata tergolong kaum ekonomi lemah. Dari sisi kebijakan juga belum bisa menjawab kebutuhan nyata masyarakat akar rumput.

Nah, bagaimana kelas ekonomi lemah bisa mencicipi kesejahteraan kalau setiap saat tetap mengharapkan bantuan atau anggaran negara?

Untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mendongkrak perekonomian arus bawah yang terdiri dari NTTB (Nelayan, Tani, Ternak, Buruh) KSP Kopdit Pintu Air menawarkan seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi anggota koperasi.

Visi KSP Kopdit Pintu Air adalah bahwa seluruh anggota harus menjadi orang kaya dan misinya, seluruh masyarakat harus menjadi anggota.

Sehubungan dengan visi dan misi itu, maka KSP Kopdit Pintu Air tidak menutup diri pada satu kelompok masyarakat tertentu. KSP Kopdit Pintu Air terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat. Jika diibaratkan, KSP Kopdit Pintu Air seumpama pukat harimau, sehingga semua orang dapat masuk dalam pukat tersebut, sebab pada hakikatnya semua orang layak menjadi anggota KSP Kopdit Pintu Air. Si tuli, si buta, si cacat, si gila, semuanya dapat masuk menjadi anggota KSP Kopdit Pintu Air, kecuali mereka yang sudah berusia di atas 76 tahun.

Dalam berkoperasi bersama KSP Kopdit Pintu Air, kaum ekonomi lemah diajarkan budaya menabung dan berhemat. Meski seribu-dua ribu, pada akhirnya juga bisa menikmati kesejahteraan. Bayangkan, misalnya saja kalau 5 juta penduduk NTT memiliki kemauan untuk menabung dengan cukup seribu rupiah saja, maka per tahun sudah ada tabungan sebesar 5 miliar.

Intinya ialah bahwa seluruh lapisan masyarakat, khususnya kaum NTTB harus sadar bahwa kaum ini memiliki potensi yang menjanjikan, asalkan belajar hidup menabung di koperasi. Kaum NTTB di mata orang kaya adalah semut, namun belajarlah dari semut yang hidup bersatu, sebab jika sudah bersatu seperti semut, gajah pun pasti akan mati.

Untuk itu, sejalan dengan ‘slogan revolusi mental’ yang digaungkan oleh Presiden Joko Widodo dan yang juga dihidupi oleh KSP Kopdit Pintu Air, maka langkah yang harus dilakukan ialah menata ulang mental kita dan kemudian berubah, sebab orang kaya datang dari orang miskin yang bermental kaya. Selain itu, menabung harus dijadikan sebagai sebuah budaya.
Oleh karena itu jangan tunda, Mari Bergabunglah bersama KSP Kopdit Pintu Air, koperasinya seluruh lapisan masyarakat!

Sementara itu untuk saudara-saudara yang telah menjadi anggota KSP Kopdit Pintu Air, mari memegang erat prinsip 3 ‘R’ yakni rajin menabung, rajin meminjam dan rajin mengangsur.

Ketua KSP Kopdit Pintu Air,
Yakobus Jano

Mari memegang erat prinsip 3 ‘R’ yakni rajin menabung, rajin meminjam dan rajin mengangsur.

Yakobus Jano

Ketua KSP Kopdit Pintu Air,

Alamat Kantor Pusat

Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur

Kontak

Phone: 0812 3692 6859